PAN adalah satu – satunya parpol tanpa komitmen, apalagi loyalitas. Pada pemilu 2014 partai yang didirikan Amien Rais mendukung Prabowo – Hatta, wajar saja karena Hatta Rajasa adalah ketumnya. Setelah junjunganya keok di putaran terakhir, PAN mengendap – endap merapat ke koalisi JKW – JK. Saat itu tak hanya PAN yang merapat ke kubu Jokowi, ada PPP, Golkar juga.

Setelah PAN merapat ke pemerintah, Amien Rais tak pernah terima kasih kepada Jokowi, justru sebaliknya ikut mengompori kabar hoaks tentang serbuan TKA Cina. Terlihat dual kepentingan di PAN, satu sisi Amien masih membara memenuhi politiknya, sisi Zul pragmatis dalam memimpin partai.

Zul tak lain besan Amien, publik mudah menilai keputusan praktis Zul dalam  banyak hal didikte oleh Amien. Termasuk keputusan meninggalkan koalisi di tahun keempat pemerintahan Jokowi demi mendukung kembali Prabowo. Keputusan ini jelas atas desakan Amien yang sejak semula tak mendukung Jokowi, bahkan beberapa kali ia menjegal Jokowi sejak pencalonan gubernur DKI Jakarta.

Pastinya Amien iri dengan kesuksesan Jokowi, baginya JKW hanya anak kemarin sore, tak pernah berjuang untuk demokrasi atau istilahnya “outsider” elite politik paska reformasi. Barangkali ini juga anggapan sebagian kalangan aktifis politik seperti Rizal Ramli dalam memandang JKW. Di sebagian pensiunan jendeal TNI pun anggapan itu juga ada, salah satu buktinya mantan Danjen Kopassus, Mayjen (Purn) Soenarko dengan enteng membeberkan rencananya menggagalkan hasil pemilu.

Videonya viral di media sosial dan WAG, Soenarko di depan tamunya bahkan berani menjamin TNI dan Polri tak akan menindak gerakan people power pada 22 Mei 2019 nanti.

Faktanya pengaruh Prabowo sebagai mantan Danjen Kopassus masih luas. Mantan anak buahnya di kesatuan tersebut yang kini menyandang bintang di pundak setelah pensiun terang – terangan mendukung Prabowo. Sah – sah saja pandangan tersebut, namun bila  mantan jenderal tersebut melawan konstitusi menjadi tidak elegan lagi sebagai mantan militer.

Kembali ke PAN, setelah hasil Quick Count mengunggulkan JKW, Zul dengan cepat bermanuver bertemu JKW di istana. Pihak PAN membantah bila partai bakal merapat ke koalisi pemerintah. Masyarakat pun tak bisa dibodohi begitu saja, PAN adalah partai licik dan licin seperti belut. Ibaratnya seperti  jamur yang menempel di tempat basah.

Bila pada pemilu kali PAN berbalik arah mendukung nomor urut 02 tentu ada alasan praktisnya. Semoga belum lupa istilah “Jenderal Kardus” yang dipopulerkan Andi Arief? Intinya PAN memutuskan merapat ke Prabowo – Sandy demi meraup dana tunai dari pasangan itu. Model politik “dagang sapi” dipraktekan PAN tanpa malu – malu.

PAN apabila masih bertahan di koalisi JKW belum tentu mendapatkannya.  Partai anggota koalisi berjuang dan berkeringat dulu, baru  mendapatkan imbalan setelah JKW – Amien menang. Rupanya PAN tak suka dengan cara ini, bisa jadi doktrin ini sudah jadi platform politik PAN.

Nah, di kubu oposisi PAN tak perlu berkeringat dulu, cukup menyodorkan dukungannya. Setelah nomor urut 02 jeblok suaranya, buru – buru Zul pindah haluan, pada acara buka bersama ormas keagamaan PERTI,   Zul kembali melobi Cawapres KH Maruf Amien. Di depan media tanpa sungkan mengucapkan selamat atas kemenangan kepada KH Maruf Amien.

Wasekjen PAN Saleh Daulay kepada media tampak berusaha menutupi manuver sang Ketum dengan mempersilakakan media menafsirkan sendiri. Sebenarnya tak perlu menyatakan seperti itu, masyarakat juga sudah menilainya bahwa PAN sedang cari kursi atau jabatan di pemerintahan Jokowi periode kedua.

Pernyataan ini sekaligus menusuk Prabowo dan Amien Rais dari belakang yang saat ini sedang giat mendelegitimasi hasil Pemilu. Prabowo dan Amien  Rais habis – habisan memprovokasi massa lewat opini kecurangan pemilu untuk turun ke jalan tanggal 22 Mei 2019.

Lha kok Zul justru menafikannya Prabowo dan Amien Rais, secara tak langsung ia mengakui proses jujur tidak seperti dituduhkan para rekan koalisinya. Bagaimana pun kursi yang saat ini dipegang oleh PAN harus dipertahankan, satu – satunya harapan adalah ke Jokowi.

Sudah menjadi semacam rumus, parpol yang memiliki wakil di kabinet pemerintah lebih mendapat tempat di kalangan pemilih. selain itu alasan pragmatis lain yaitu akses dana politik, partai kecil seperti PAN bila tak dipimpin pengusaha atau dimodali cukong besar, mesin partai bakal mandeg