Event IMF – World Bank Grup telah berlangsung beberapa bulan lalu, kegiatan ini kabarnya menelan biaya tak sedikit, menurut catatan yang terpublikasi di media mencapai 855 Milyar Rupiah. Sebuah nilai fantastis untuk sebuah event internasional sekalipun, tapi jangan buru – buru berpikir bahwa pengeluaran itu sebuah pemborosan.
Pertemuaan IMF – World Bank Grup sebuah event prestius dengan partisipan dari lembaga – lembaga keuangan global yang berpengaruh, meski Indonesia sendiri pernah menelan pil pahit pada tahun 1998 dengan IMF. Dunia sudah berubah, kita tidak bisa eksklusif diantara negara – negara dunia, fakta semua negara saling membutuhkan,
saling berbagi melalui berbagai forum, media atau format – format kerjasama lainnya.

Di tengah giatnya pembangunan di Indonesia tentunya kita juga membutuhkan pendanaan, investasi dan pasar dari negara lain, bagaimana cara kita mencapainya ? Persaingan dagang antar negara – negara kini semakin sengit, di kawasan Asia Tenggara saja muncul Vietnam sebagai kekuatan ekonomi baru, padahal negara tersebut yang masih
tersisa dalam ingatan kita konflik dalam negeri yang tak putus – putus. Vietnam tak lagi bisa dipandang sebelah mata, negara ini telah menunjukan banyak kemajuan di banyak bidang, selain ekonomi.

Lalu apa signifikansinya sebagai tuan rumah penyelenggaraan pertemuan tahunan IMF – World Bank Grup bagi Indonesia ? Saya melihat Indonesia mendapat kepercayaan penting dari dunia internasional setelah event olah raga terbesar di Asia, Asian Games. Dampak tak langsung bagi Indonesia belum semua bisa dinikmati langsung,
bagaimana pun juga pertemuan ini adalah upaya membangun keterikatan bidang investasi dengan negara – negara dan lembaga keuangan internasional.

Luhut Pandjaitan selaku ketua penyelenggara pertemuan IMF – World Bank di Bali itu menyatakan beberapa investor dari luar negeri tertarik menanamkan investasinya di Indonesia setelah melihat kemajuan – kemajuan yang dicapai Indonesia dalam 4 tahun terakhir. Menurut Luhut, sejumlah perusahaan multinasional termasuk LG dari Korea dan Apel menyatakan minat mereka membangun industri baterai di Indonesia. Belum lagi kesepakatan investasi dan pembiayaan pada proyek – proyek di bawah kementerian BUMN yang didapat saat event itu berlangsung lewat skema pembiayaan PINA.

Skema Investasi Non-Anggaran Pemerintah (PINA) adalah skema pembiayaan proyek infrastruktur tanpa melibatkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) melalui penggalangan sumber pembiayaan alternatif agar dapat digunakan untuk berkontribusi dalam pembiayan proyek-proyek strategis nasional yang membutuhkan. Jadi konsep adalah simbiosis mutualisme, bukan seperti anggapan sebagian orang bahwa pemerintah menjual proyek – proyek nasional ke Asing atau Aseng. Dalam persepsi publik mungkin akan berpikir bahwa transaksi bisnis ini seperti model dagang di pasar, pembeli menyerahkan uang dan barang yang dibeli menjadi hak miliknya. Bila mekanismenya seperti sudah dari dulu SDA Indonesia habis dimiliki asing.

Menko Kemaritiman, Luhut Pandjaitan dalam acara Forum Merdeka Barat 9 (18/12 FMB9) membantah dengan tegas, bahwa Pemerintah Indonesia juga memiliki harga diri (dignity) sebagai bangsa, dan memikirkan dampak setiap kebijakan untuk jangka panjang.

Hasil Kajian Bappenas

Bila Luhut Pandjaitan menguraikan dampak tak langsung dari event ini, Menteri PPN/Bappenas Bambang Brodjonegora mengungkap hasil kajian timnya dengan metodologinya. Menurut Bambang event di Bali ini menghadirkan delegasi terbanyak dalam sejarah untuk penyelenggaraan di luar Washington DC, lebih dari 50 persen peserta tidak akan datang ke Bali bila tak event ini.

Secara detil Menteri PPN / Bappenas ini menyampaikan capaian kerjasama di bidang investasi dari event ini, tercatat 14 BUMN berhasil menggaet investasi sebesar 202 Trilyun Rupiah, dan PINA Center Bappenas juga sukses menggaet investasi sebesar 47 Trilyun Rupiah.

Paska pelaksanaan Pertemuan Tahunan IMF – WB 2018, Kementerian PPN/Bappenas melakukan survei terhadap entitas bisnis di di Bali, hasil survei ini menyebutkan sebesar 341 Milyar Rupiah dibelanjakan peserta manca negara selama event di Bali untuk makanan, minuman dan akomodasi, buah tangan. Sedangkan untuk peserta domestik
membelanjakan sebesar 241 Milyar Rupiah.

Patut digarisbawahi, pertemuan internasional ini mampu mendongkrak pertumbuhan ekonomi Propinsi Bali sampai di atas 6 persen, sebelum ada event ini sebesar 5,9 persen. Saya tertarik dengan uraian Menteri PPN/Bappenas tentang lama tinggal peserta manca negara di Bali, peringkat pertama diduduki peserta asal Italia, diikuti Luxemburg dan Irlandia. Menurut survei ini, peserta manca negara yang memutuskan lebih lama tinggal di Bali adalah peserta dari negara yang cukup jauh dari Indonesia.

Pertemuan IMF – World Bank sempat mendapat cibiran dari berbagai kalangan sebagai pemborosan di tengah sulitnya perekonomian nasional, faktanya dampak dari event ini memberikan sumbangsih besar bagi Indonesia, terutama Pulau Bali. Banyak industri kecil terangkat, upah tenaga kerja naik, lapangan kerja bertambah. Event ini meciptakan lapangan kerja bagi 22.300 orang di Bali, dan meningkatkan upah riil sebesar 0,70 persen.